Pelajaran Mulok

SWAMEDIKASI

 

  1. A.    Pengertian

Swamedikasi adalah pengobatan sendiri atau upaya seseorang untuk mengobati gejala penyakit ringan sebelum mencari pertolongan atau pengobatan ke petugas kesehatan atau fasilitas kesehatan. Namun bukan asal mengobati begitu saja justru pasien mencari informasi obat yang sesuai penyakitnya, dengan dasar hukum permenkes No. 919/MENKES/PER/1993. Swamedikasi boleh dilakukan untuk penyakit ringan tetapi tidak akut. Setidaknya ada 5 komponen informasi untuk melakukan swamedikasi obat modern, yaitu pengetahuan tentang kandungan bahan aktif obat (isinya apa?), indikasi (untuk mengobati apa?), dosage (seberapa banyak?/seberapa sering?), efek samping, kontra indikasi (siapa atau kondisi apa tidak boleh minum obat itu).

Kriteria obat yang digunakan

Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa resep:

1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.

2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit.

3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan

4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia

5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri

 

Jenis obat yang digunakan

1. Tanpa resep dokter :

- obat bebas tak terbatas : tanda lingkaran hitam, dasar hijau

- obat bebas terbatas : tanda lingkaran hitam, dasar biru

2. Obat Wajib Apotek (OWA) Merupakan obat keras tanpa resep dokter, tanda: lingkaran hitam, dasar merah

3. Suplemen makanan

 

 

 

 

 

 

Seseorang melakukan swamedikasi karena:

§ Berdasar pengalamannya atau keluarga

§ Menggunakan sisa obat orang lain

§ Menggunakan copy resep

§ Menggunakan obat OTR dari apotek atau toko obat

 

Syarat suatu obat swamedikasi :

§ Obat harus aman,kualitas dan efektif,

§ Obat yang digunakan harus punya indikasi, dosis, bentuk sediaan yang tepat,

§ Obat yang diserahkan harus disertai informasi yang jelas dan lengkap.

 

Faktor yang menyebabkan meningkatnya swamedikasi :

§ Perkembangan teknologi farmasi yang inovatif

§ Jenis atau merek obat yang beredar telah diketahui atau dikenal masyarakat luas

§ Berubahnya peraturan tentang obat atau farmasi

§ Kesadaran masyarakat akan pentingnya arti sehat

§ Pengaruh informasi atau iklan

§ Kemudahan mendapatkan obat

§ Mahalnya biaya kesehatan

 

Dampak positifnya :

§ Pencegahan maupun pengobatan yang lebih dini

§ Biaya yang lebih terjangkau dan cepat

 

Dampak negatifnya :

§ Pengobatan yg kurang rasional

 

Hal-hal yang harus diketahui sebelum melakukan pengobatan sendiri :

§ Apakah masalah kesehatan anda memerlukan pemeriksaan dokter .

§ Apakah anda memerlukan Obat .

§ Konsultasikan dgn Apoteker tentang obat yg dpt diperoleh tanpa resep dokter, untuk mengatasi masalah kesehatan anda.

 

Aturan pemakaiannya, perlu diperhatikan :

§ Bagaimana cara memakainya

§ Berapa jumlah yang digunakan sekali pakai

§ Berapa kali sehari

§ Berapa lama pemakaiannya

§ Waktu pemakaian

Manfaat

Swamedikasi bermanfaat dalam pengobatan penyakit atau nyeri ringan, hanya jika dilakukan dengan benar dan rasional, berdasarkan pengetahuan yang cukup tentang obat yang digunakan dan kemampuan nengenali penyakit atau gejala yang timbul. Swamedikasi secara serampangan bukan hanya suatu pemborosan, namun juga berbahaya

 

  1. B.     Informasi Pada Kemasan dan Brosur Obat

Obat pada dasarnya merupakan bahan yang hanya dengan takaran tertentu dan dengan penggunaan yang tepat dapat dimanfaatkan untuk mendiagnosa, mencegah penyakit, menyembuhkan atau memelihara kesehatan. Oleh karena itu sebelum menggunakan obat, harus diketahui sifat dan cara penggunaannya agar tepat, aman dan rasional. Informasi tentang obat, dapat diperoleh dari etiket atau brosur yang menyertai obat tersebut.

Pada umumnya informasi obat yang dicantumkan adalah:

  1. Nama obat

Nama obat pada kemasan terdiri dari nama dagang dan nama zat aktifyang terkandung di dalamnya.

Contoh: Nama dagang      : Panadol

Nama zat aktif   : Parasetamol / Acetaminophen

  1. Komposisi obat

Informasi tentang zat aktif yang terkandung di dalam suatu obat, dapat merupakan zat tunggal atau kombinasi dari berbagai macam zat aktif dan bahan tambahan lain.

  1. Indikasi

Informasi mengenai khasiat obat untuk suatu penyakit.

  1. Aturan pakai

Informasi mengenai cara penggunaan obat yang meliputi waktu dan berapa kali obat tersebut digunakan.

  1. Peringatan perhatian

Tanda peringatan yang harus diperhatikan pada setiap kemasan obat bebas dan obat bebas terbatas.

  1. Tanggal kadaluarsa

Tanggal yang menunjukkan berakhirnya masa kerja obat.

  1. Nama produsen

Nama Industri Farmasi yang memproduksi obat.

  1. Nomor batch/lot

Nomor kode produksi yang dikeluarkan oleh Industri Farmasi.

  1. Harga eceran tertinggi

Harga jul obat tertinggi yang diperbolehkan oleh pemerintah.

10.  Nomor registrasi

Tanda ijin edar absah yang diberikan oleh pemerintah.

 

  1. C.    Cara Pemilihan Obat

Hal yang harus di ingat dalam pemilihan obat:

  1. Alergi atau reaksi yang tidak diinginkan yang pernah dialami terhadap obat tertentu.
  2. Wanita dalam kondisi hamil atau merencanakan untuk hamil, karena beberapa obat dapat mempengaruhi janin sehingga dapat menyebabkan cacat pada bayi.
  3. Wanita yang sedang menyusui, sebab beberapa obat dapat masuk ke dalam air susu ibu dan menimbulkan efek yang tidak diinginkan pada bayi.
  4. Diet yang sedang dilakukan misalnya minum obat diet atau diet rendah garam atau diet rendah gula, mengingat selain mengandung bahan berkhasiat obat juga mengandung bahan tambahan lain seperti pemanis.
  5. Sedang minum obat lain.

 

  1. D.    Penggunaan Obat Rasional

Kriteria penggunaan obat rasional adalah:

  1. Tepat diagnosis

Obat diberikan sesuai dengan diagnosis, apabila diagnosis tidak ditegakkan dengan benar maka pemilihan obat akan salah.

  1. Tepat indikasi penyakit

Obat yang diberikan harus tepat bagi suatu penyakit.

  1. Tepat pemilihan obat

Obat yang dipilih harus memiliki efek terapi sesuai dengan penyakit.

  1. Tepat dosis

Dosis, jumlah, cara, waktu dan lama pemberian obat harus tepat. Apabila salah satu dari 4 hal tersebut tidak dipenuhi menyebabkan efek terapi tidak tercapai.

  1. Tepat jumlah

Jumlah obat yang diberikan harus dalam jumlah yang cukup.

  1. Tepat cara pemberian

Cara pemberian obat yang tepat adalah obat antasida seharusnya dikunyah dahulu baru ditelan. Demikian pula antibiotik tidak boleh dicamur dengan susu karena akan membentuk ikatan sehingga menjadi tidak dapat diabsorbsi sehingga menurunkan efektifitasnya.

  1. Tepat interval waktu pemberiannya

Cara pemberian obat hendaknya dibuat sederhana mungkin dan praktis agar mudah ditaati oleh pasien. Makin sering frekuensi pemberian obat per hari (misalnya 4 kali sehari) semakin rendah tingkat ketaatan minum obat. Obat yang harus diminum 3 kali sehari harus diartikan bahwa obat tersebut harus diminum dengan interval setiap 8 jam.

  1. Tepat lama pemberian

Lama pemberian obat harus tepat sesuai penyakitnya masing-masing. Untuk Tuberculosis lama pemberian paling singkat adalah 6 bulan, sedangkan untuk kusta paling singkat 6 bulan. Lama pemberian Kloramfenikol pada demam tifoid adalah 10-14 hari.

  1. Tepat penilaian kondisi pasien

Penggunaan obat disesuaikan dengan kondisi pasien, antara lain harus memperhatikan: kontraindikasi obat, komplikasi, kehamilan, menyusui, lanjut usia atau bayi.

  1. Waspada terhadap efek samping

Obat dapat menimbulkan efek samping, yaitu efek t5idak diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi, seperti timbulnya mual, muntah, gatal-gatal dan lain sebagainya.

  1. Efektif, aman, mutu terjamin. Tersedia setiap saat dan harga terjangkau

Untuk mencapai kriteria ini obat dibeli melalui jalur resmi.

  1. Tepat tindak lanjut (follow up)

Apabila pengobatan sendiri telah dilakukan, bila sakit berlanjut konsultasikan ke dokter

  1. Tepat penyerahan obat (dispensing)

Penggunaan obat rasional melibatkan penyerah obat dan pasien sendiri sebagai konsumen. Resep yang dibawa ke apotek atau tempat penyerahan obat di Puskesmas akan dipersiapkan obatnya dan diserahkan kepada pasien dengan informasi yang tepat.

10.  Pasien patuh terhadap perintah pengobatan yang diberikan

Ketidakpatuhan minum obat terjadi pada keadaan berikut:

  1. Jenis sediaan obat beragam
  2. Jumlah obat terlalu banyak
  3. Frekuensi pemberian obat per hari terlalu sering
  4. Pemberian obat dalam jangka panjang tanpa informasi
  5. Pasien tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai cara menggunakan obat
  6. Timbulnya efek samping

 

 

 

 

 

BENTUK SEDIAAN OBAT

 

  1. A.    BENTUK SEDIAAN PADAT
    1. PULVIS / SERBUK

Serbuk adalah campuran kering bahan obat atau zat kimiayang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar

Contoh: Enbatic serbuk tabur

Caladine powder

  1. TABLET

Adalah sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.

ü  Tablet Kunyah

Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah, memberikan residu dengan rasa enak dalam rongga mulut, mudah ditelan dan tidak meninggalkan rasa pahit atau tidak enak. Jenis tablet ini digunakan dalam formulasi tablet untuk anak, formulasi multivitamin, antasida dan antibiotok tertentu.

Contoh: Erysanbe chew

ü  Tablet Salut

Tujuan tablet disalut: melindungi zat aktif dari udara, kelembaban atau cahaya, menutupi rasa dan bau yang tidak enak, membuat penampilan lebih baik dan mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna.

Tablet salut biasa

Umumnya tablet disalut dengan gula, untuk kepentingan estetika dan identifikasi maka zat penyalut bagian luar biasanya diwarnai

Tablet salut enteric

Tablet dibuat salut enteric jika obat rusak atau inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi mukosa lambung. Adapun tujuannya adalah untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung. Sinonim dari tablet salut enteric dalam farmakope adalah lepas tunda.

Contoh: tablet Bisakodil (dibuat salut enteric karena obat mengiritasi lambung).

ü  Tablet Lepas Lambat

Tablet dibuat sedemikian rupa untuk melepaskan obatnya secara perlahan –lahan sehingga zat aktif akan tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. Tipe obat ini umumnya dikenal sebagai tablet atau kapsul yang kerjanya controlled release, delayed release, sustained release, sustained action, prolonged release, prolonged action, timed release, slow release, extended release, atau extended action.

 

Contoh: Profenid CR

Isoptin SR

Adalat OROS

ü  Tablet Hisap (Lozenges)

Adalah tablet yang dapat melarut atau hancur perlahan dalam mulut. Dibuat dengan bahan dasar beraroma manis. Tablet hisap ditujukan untuk pengobatan iritasi local atau infeksi mulut atau tenggorokan tetapi dapat juga mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk absorbs sistemik setelah ditelan. Sinonom tablet hisap: Pastiles (tablet hisap tuang) atau Troches (Tablet hisap kempa)

Contoh: FG Troches

Enkasari Lozenges

ü  Tablet Sublingual dan Tablet Bukal

Tablet sublingual adalah tabet yang disisipkan di bawah lidah, tablet bukal disisipkan di pipi. Tablet ini merupakan tablet oral yang direncanakan larut dalam kantung pipi atau dibawah lidah untuk diabsorbsi melalui mukosa oral. Cara ini berguna untuk penyerapan obat yang dirusak oleh cairan lambung dan atau sedikit sekali diabsorbsi oleh saluran pencernaan.

Contoh: Tablet Nitrogliserin (sublingual)

Tablet Progesterone (bukal)

ü  Tabet Effervescent

Adalah tablet berbuih yang dapat dibuat dengan cara kompresi granul yang mengandung garam effervescent atau bahan-bahan ain yang mampu melepaskan gas ketika bercampur dengan air.

Contoh: Tablet Aspirin effervescent

CDR effervescent

ü  Tablet Vaginal

Tablet vaginal dimaksudkan untuk diletakkan dalam vagina dengan alat penyisip khusus, di dalam vagina obat akan dilepaskan dan umumnya untuk efek local.

Contoh: Naxogin

Flagistatin

  1. KAPSUL

Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat melarut. Kapsul cangkang keras dapat diisi dengan serbuk, butiran atau granul, bahan semi padat atau cairan, dan kapsul atau tablet kecil. Kapsul cangkang lunak dapat diisi dengan cairan, suspense, bahan berbentuk pasta atau serbuk kering.

Ukuran cangkang kapsul keras bervariasi dari nomor paling kecil (5) sampai nomor paling besar (000). Berikut ini adalah kapasitas volume rata – rata yang dapat diisikan dalam cangkang kapsul keras dengan berbagai ukuran.

 

Ukuran kapsul

Kapasitas volume isi rata – rata (ml)

000

1,36

00

0,95

0

0,67

1

0,48

2

0,37

3

0,27

4

0,20

5

0,13

 

Contoh: Kapsul Tetrasiklin (cangkang keras)

Kapsul minyak ikan (cangkang lunak)

  1. PIL

Pil adalah bentuk sediaan padat berupa massa bulat, mengandung satu atau lebih bahan obat, dan dimaksudkan untuk pemakaian secara oral. Pil mempunyai berat 60 mg – 300 mg, sedangkan bentuk sediaan yang sama dengan berat kurang dari 60 mg disebut granul, dan sediaan dengan berat lebih dari 300 mg disebut boli.

Contoh: Pil KB

  1. IMPLAN

Implan atau pelet adalah sediaan dengan massa padat steril berukuran kecil, berisi obat dengan kemurnian tinggi (dengan atau tanpa bahan eksipien), dibuat dengan cara pengempaan atau percetakan. Implan atau pelet dimaksudkan untuk ditanam di dalam tubuh (biasanya secara sub kutan) dengan tujuan untuk memperoleh pelepasan obat secara berkesinambungan dalam jangka waktu yang lama. Implan ditanamkan dengan bantuan injector khusus yang sesuai atau dengan sayatan bedah. Bentuk sediaan ini digunakan untuk pemberian hormone seperti testosterone atau estradiol.

Contoh: Implanon (etonogestrel 68 mg/susuk KB)

Indoplant (levonorgestrel 75 mg/kapsul susuk)

 

  1. B.     BENTUK SEDIAAN SEMI PADAT
    1. SUPPOSITORIA

Suppositoria adalah sediaan semi padat yang pemakaiannya dengan cara memasukkan melalui lubang atau celah pada tubuh, dimana sediaan tersebut akan melebur, melunak, atau melarut dan memberikan efek local atau sistemik. Suppositoria umumnya dimasukkan melalui rectum, vagina, kadang – kadang melalui saluran urin.

Contoh: Anusol suppositoria (obat antihemoroid)

Dulcolax suppositoria (obat laksatif)

  1. OVULA

Adalah sediaan padat yang digunakan melalui vagina, umumnya berbentuk bulat telur, dapat melarut, melunak dan meleleh pada suhu tubuh.

Contoh: Flagystatin ovula

Vagistin ovula

 

  1. SALEP

Adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topical pada kulit atau selaput lendir.

Contoh: Kemicetine salep

Trombophop oint

  1. PASTA

Adalah sediaan semi padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian topical. Pasta sama dengan salep dimaksudkan untuk pemakaian luar pada kulit. Perbedaannya dengan salep terutama dalam kandungannya, secara umum persentase bahan padat lebih besar dan sebagai akibatnya pasta lebih kaku daripada salep.

Contoh: Pasta Zink Oksida

  1. KRIM

Adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Krim biasanya digunakan sebagai emolien atau pemakaian obat pada kulit.

Contoh: Hidrokortison krim

  1. GEL

Gel merupakan system semi padat terdiri dari suspense yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organic yang besar, terdispersi oleh suatu cairan. Gel kadang – kadang disebut jeli.

Contoh: Thrombophop gel

 

  1. C.    BENTUK SEDIAAN CAIR
    1.                   1.      LARUTAN

Adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih substansi kimia yang terlarut atau terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang cocok.

Larutan berdasarkan system solvennya:

ü  Spirit

Adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol dari zat mudah menguap, umumnya merupakan larutan tunggal atau campuran bahan. Beberapa spirit digunakan sebagai bahan pengaroma, yang lain memiliki makna pengobatan.

Contoh: Spiritus Vini Vitis (Brendi), Ph. Ned. XI

Spiritus Frumenti (Wiski), Ph. Ned. XI

ü  Tingtur

Adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol dibuat dari bahan tumbuhan atau senyawa kimia.

Contoh: Tingtur Iodium

ü  Air Aromatik

Adalah larutan jernih dan jenuh dalam air, dari minyak mudah menguap atau senyawa aromatic atau bahan mudah menguap lain.

Contoh: Air Kamper (sebagai bahan pembawa dalam larutan untuk mata karena efek menyegarkan).

ü  Eliksir

Adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, mengandung selain obat, juga zat tambahan seperti gula atau zat pemanis lainnya, zat warna, zat wewangi dan zat pengawet, digunakan sebagai obat dalam.

Contoh: Benadryl Elixir (berisi Difenhidramin HCl)

ü  Sirup

Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa kecuali dinyatakan lain, kadar sakarosa tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0%.

Contoh: Sirup Simplex (sirup bukan obat)

Sirup Ipekak (emetik)

 

Larutan berdasarkan rute penggunaannya:

ü  Larutan oral

Adalah sediaan cair yang dimaksudkan untuk pemberian oral mengandung satu atau lebih bahan aktif terapetik yang larut dalam air atau system air – cosolven.

ü  Larutan topical

Adalah larutan yang dimaksudkanuntuk pemakaian topical pada kulit atau membrane mukosa oral.

ü  Larutan otik

Adalah larutan yang dimaksudkan untuk diteteskan ke dalam telinga bagian luar.

ü  Larutan nasal

Dimaksudkan untuk disemprotkan atau diteteskan ke dalam hidung.

ü  Larutan inhalasi

Diberikan melalui saluran nafas hidung atau mulut dimaksudkan untuk efek local atau absorbsi sistemik dari zat aktif.

ü  Larutan ophtalmik

Adalah larutan steril, bebas partikel yang diformulasikan untuk diteteskan pada mata.

ü  Larutan Opthalmik

Adalah larutan steril, bebas partikel yang diformulasikan untuk diteteskan pada mata.

ü  Larutan Irigasi

Adalah larutan steril yang digunakan untuk merendam, mencuci atau mengaliri luka terbuka, sayatan – sayatan bedah atau rongga – rongga tubuh. Larutan ini digunakan secara topical, tidak untuk parenteral. Pada etiket diberi tanda bahwa sediaan ini tidak dapat digunakan untuk injeksi.

ü  Larutan parenteral

Adalah larutan yang diinjeksikan melalui kulit atau membrane pembatas atau secara langsung ke dalam pembuluh darah, otot, organ dan jaringan lain.

  1.                   2.      SUSPENSI

Adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair.

Suspensi oral adalah sediaan cair mengandung partikel padat terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai, dan ditujukan untuk penggunaan oral.

Suspensi topical adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit.

Suspensi tetes telinga adalah sedian cair mengandung partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.

  1.                   3.      EMULSI

Adalah system dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan lain, dalam bentuk tetesan kecil. Konsistensi emulsi sangat beragam, mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat.

  1.                   4.      INFUSA / INFUS

Adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 900C seama 15 menit

  1.                   5.      LOTIO / LOSIO

Adalah sediaan cair yang dimaksudkan untuk pemakaian luar pada kulit sebagai pelindung atau untuk obat karena sifat bahan – bahannya. Lotio dimaksudkan segera kering pada kulit setelah pemakaian dan meninggalkan lapisan tipis dari komponen obat pada permukaan kulit.

Contoh: Vitacid lotion

  1.                   6.      COLLUTIORIA / KOLUTORIUM / OBAT CUCI MULUT

Kolutorium biasanya merupakan larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodorant, antiseptika, analgetika local atau astringen.

Contoh: Listerine Antiseptik Mouthwash

  1.                   7.      GARGARISMA / OBAT KUMUR / GARGLE

Adalah sediaan berupa larutan, umumnya dalam pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan, dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorok.

Tujuan utama penggunaan obat kumur adalah dimaksudkan agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lender sepanjang tenggorokan, dan tidak dimaksudkan agar obat itu menjadi pelindung selaput lender.

Contoh: Betadine Gargle Mouthwash

  1.                   8.      VAGINAL DOUCHES

Merupakan larutan untuk disemprotkan pada vagina.

Contoh: Betadine Vaginal douches

  1.                   9.      ENEMA

Adalah larutan yang diberikan melalui rectum untuk mendapatkan efek local dari obat atau untuk absorbs sistemik.

Contoh: Microlax enema (laksatif)

  1.                 10.    INHALASI

Adalah sediaan obat atau larutan atau suspensu terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas, hidung atau mulut untuk memperoleh efek local atau sistemik.

Contoh: Ventolin Diskhaler

Ventolin Nebules

  1.                 11.    AEROSOL FARMASI

Adalah bentuk sediaan yang diberi tekanan, mengandung satu atau lebih bahan aktif yang bila diaktifkan memancarkan butiran – butiran cairan dan / atau bahan – bahan padat dalam media gas.

Contoh: Kenalog Spray (berisi antiinflamasi topical)

  1.                 12.    INJEKSI

Menurut definisi dalam Farmakope, sediaan steril untuk kegunaan parenteral digolongkan menjadi 5 jenis yang berbeda yaitu:

  1. Obat atau larutan atau emulsi yang digunakan untuk injeksi, ditandai dengan nama, Injeksi.......

Contoh: Injeksi Aminofilin

  1. Sediaan padat kering atau cairan pekat tidak mengandung dapar, pengencer atau bahan tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut yang sesuai memenuhi persyaratan injeksi, dan dapat dibedakan dari nama bentuknya, ..... Steril.

Contoh: Ampisilin Natrium Steril

  1. Sediaan seperti tertera pada nomor 2 tetapi mengandung satu atau lebih dapar, pengencer atau bahan tambahan lain, dan dapat dibedakan dari nama bentuknya, ..... untuk injeksi.

Contoh: Siklofosfamid untuk injeksi

  1. Sediaan berupa suspensi serbuk dalam media cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena ataun ke dalam saluran spinal, dan dapat dibedakan dari nama bentuknya, Suspensi ...... steril.

Contoh: Suspensi Kortison Asetat steril.

  1. Sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai, dan dapat dibedakan dari nama bentuknya, ..... steril untuk suspensi.

Contoh: Ampisilin Steril untuk suspensi.

  1.                 13.    INFUS INTRVENOUS

Adalah sediaan steril berup larutan atau emulsi, bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah, disuntikkan langsung ke dalam vena dalam volume relative banyak. Dalam Farmakope, yang dimaksud dengan larutan intravena volume besar adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah bertanda volume lebih besar dari 100 ml. Injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah bertanda volume 100 ml atau kurang.

Contoh: Injeksi Ringer Laktat

Injeksi Asering

  1.                 14.    LARUTAN DIALISIS

Larutan dialysis peritoneal, dibiarkan mengalar ke dalam ruang peritoneal, digunakan untuk menghilangkan senyawa – senyawa toksik yang secara normal dikeluarkan / disekresikan aleh ginjal.

 

  1. D.    BENTUK SEDIAAN LAINNYA

PLESTER

Adalah bahan yang digunakan untuk pemakaian luar terbuat dari bahan yang dapat melekat pada kulit dan menempel pada pembalut.Plester dimaksudkan untuk melindungi dan menyangga dan atau memberikan daya perekat dan daya maserasi dan memberikan pengobatan jika melekat pada kulit. Contoh: Handiplast plester

 

 

 

RUTE PEMBERIAN OBAT

 

Obat dapat dipersiapkan untuk beberapa kemungkinan cara penggunaannya/rute pemberian, dan dibuat formula sediaan farmasi yang cocok untuk menghasilkan reaksi terapi yang maksimum. Beberapa pertimbangan dalam penentuan tipe bentuk sediaan obat yang akan dibuat antara lain adalah sifat atau kondisi penyakit yang akan diobati, umur pasien, serta sifat-sifat fisika dan sifat farmasi khusus dari masing-masing obat dan tipe bentuk sediaan.

Istiah rute pemberian

Tempat pemberian

Oral

Per oral

Mulut

Saluran gastrointestinal melalui mulut

Sublingual

Di bawah idah

Parenteral

Intravena

Intraarteri

Intrakardiak

Intraspinal/Intrathecal

Intraosseous

Intraarticuar

Intrasinovia

Intrakutan/intradermal

Subkutan

Intramuskuar

Selain melalui saluran GI (melalui injeksi)

Vena

Arteri

Jantung

Tulang belakang / punggung

Tulang

Sendi

Area cairan sendi

Kulit

Di bawah kulit

Otot

Epikutan (topical)

Permukaan kulit

Transdermal

Permukaan kulit

Conjunctival

Selaput mata

Intraocular

Intranasal

Aural

Intrarespiratori

Rektal

Vaginal

Uretral

Mata

Hidung

Telinga

Paru – paru

Rektum

Vagina

Uretra

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikut ini adalah aplikasi rute pemberian obat dengan bentuk sediaan yang utama:

Rute pemberian

Bentuk sediaan

Oral

Tablet

Kapsul

Larutan

Sirup

Eliksir

Suspensi

Serbuk

Sublingual

Tablet

Troches / lozenges

Parenteral

Larutan

Suspensi

Epikutan / transdermal

Ointment

Krim

Gel

Pasta

Plester

Serbuk

Aerosol

Lotion

Sediaan transdermal

Conjunctival

Contact lens insert

Ointment

Intraocular / intraaural

 

Larutan

Suspensi

Intranasal

Larutan

Semprot

Inhalan

Salep

Intrarespiratori

Aerosol

Rektal

Larutan

Ointment

Suppositoria

Vaginal

Larutan

Ointment

Busa emulsi

Gel

Tablet

Insert

Suppositoria

Uretral

Larutan

Suppositoria

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PETUNJUK PENGGUNAAN OBAT KHUSUS

 

TETES MATA

  1. Cuci tangan dengan sabun.
  2. Berdiri atau duduklah di depan cermin.
  3. Buka tutup botol tetes mata.
  4. Periksalah ujung penetes untuk memastikan tidak pecah atau patah.
  5. Janganlah menyentuh ujung penetes dengan apapun, usahakan tetap bersih.
  6. Posisikan kepala menengadah dan tarik kelopak mata bagian bawah sampai terbentuk cekungan.
  7. Pegang obat tetes mata dengan ujung penetes di bawah sedekat mungkin dengan mata tetapi tidak menyentuhnya.
  8. Perlahan- lahan tekan botol tetes mata sehingga jumlah tetesan yang di inginkan dapat menetes dengan benar pada cekungan yang terbentuk dari kelopak mata bagian bawah.
  9. Tutuplah mata selama kurang lebih 2-3 menit.

10.  Bersihkan kelebihan cairan dengan tissue

11.  Ulangi lagi untuk mata yang lain jika perlu.

12.  Tutup kembali obat tetes mata tersebut. Jangan mengusap atau mencuci ujung penetesnya.

 

 

      Perhatian:

  1. Obat mata berisi cairn yang steril (bebas dari bakteri) sebelum tutup botolnya dibuka. Setelah tutup botol obat tetes mata dibuka maka:
  2. Simpan di tempat sejuk dan gelap.
  3. Jangan menyentuh ujung penetes dengan apapun.
  4. Jangan menggunakan satu obat tetes matauntuk bersama- sama
  5. Buanglah botol setelah waktu yang direkomendasikan. Kecuali ada keterangan lain biasanya 4 minggu setelah pertama kali botol dibuka. Sebaiknya catatlah tanggal waktu pertama kali membuka botol sehingga dapat dengan mudah mengingat kapan tidak bisa digunakan lagi.
  6. Jika menggunakan obat tetes mata lebih dari satu tunggulah sekitar 2 menit sebelum meneteskan obat yang lain.
  7. Setelah menggunakan tetes mata mungkin obat akan terasa di mulut atau di kerongkongan.
  8. Jangan menggunakan lensa kontak ketika menggunakan obat tetes mata. Karena beberapa obat dan pengawet yang ada dalam tetes mata dapat terakumulasi di lensa kontak.
  9. Jaunhkan obat tetes mata dari jangkauan anak – anak.

 

SALEP MATA

  1. Cuci tangan dengan sabun.
  2. Duduk atau berdirilah di depan cermin.
  3. Buka tutup salep.
  4. Tengadahkanlah kepala.
  5. Tarik kelopak mata bagian bawah ke bawah sehingga membentuk cekungan.
  6. Peganglah tube sedekat mungkin dengan cekungan tetapi tidak menyentuhnya dan perlahan-lahan tekan sehingga keluar salep sepanjang 1cm (atau sejumlah yang dianjurkan) dan masukkan ke dalam cekungan tersebut.
  7. Jangan menyentuh mata atau bulu mata dengan ujung tube.
  8. Pejamkan mata selama ± 2 menit supaya salep dapat tersebar merata.
  9. Pandangan mungkin akan menjadi kabur ketika membuka mata. Jangan menggosok mata. Hal ini dapat hilang dengan sendirinya setelah beberapa saat memejamkan mata.

10.  Usaplah kelebihan salep dengan tisu.

11.  Ulangi untuk mata yang lain jika diperlukan.

12.  Tutup kembali tube.

13.  Jangan menyentuh tuba dengan apapun.

14.  Jika menggunakan lebih dari satu salep mata tunggu sekitar 30 menit sebelum menggunakan salep mata berikutnya.

15.  Jika selain salep mata juga menggunakan tetes mata maka tetes mata digunakan terlebih dahulu dan tunggu sekitar 5 menit sebelum mengunakan salep mata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perhatian:

  1. Mungkin akan lebih mudah jika meminta bantuan orang lain untuk mengoleskan salep mata.
  2. Jangan berbagi salep mata dengan orang lain.
  3. Jangan menggunakan lensa kontak ketika menggunakan salep mata.
  4. Buanglah salep mata setelah waktu yang direkomendasikan. Kecuali ada keterangan lain biasanya 4 minggu setelah pertama kali tube dibuka. Sebaiknya catatlah tanggal waktu pertama kali membuka tube sehingga dapat dengan mudah mengingat kapan tidak bisa digunakan lagi.
  5. Setelah mengguanakan salep mata mungkin akan terasa pedih, tetapi ini hanay akan berlangsung beberapa menit. Jika terasa lebih lama bertanyalah kepada Apoteker atau Dokter.
  6. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.

 

TETES TELINGA

  1. Pertama – pertama cucilah telinga dengan kain yang lembab dan keringkan.
  2. Cuci tangan dengan sabun.
  3. Hangatkan botol tetes telinga sampai mendekay=ti temperature tubuh dengan menggenggamnya selama beberapa menit.
  4. Kocoklah botol obat tetes telinga.
  5. Buka tutup botol tetes telinga dan periksalah ujung penetesnya untuk memastikan tidak pecah atau patah. Jangan menyentuh ujung penetes dengan apapun.
  6. Miringkan kepala ke satu sisi atau berbaringlah miring sehingga telinga yang akan diobati berada di atas.
  7. Tarik daun telinga perlahan untuk membuka liang telinga.
  8. Teteskan sesuai jumlah yang di inginkan ke dalam telinga.
  9. Tetaplah pada posisi miring atau berbaring miring selama beberapa menit untuk memastikan obat masuk ke dalam telinga.

10.  (Untuk tetes telinga tertentu) sebaiknya gunakan kapas untuk menutup liang telinga setelah ditetesi obat.

11.  Ulangi langkah tersebut untuk telinga lain jika perlu.

12.  Tutup kembali botol dengan benar.

13.  Cuci tangan kembali.

 

Perhatian:

  1. Mungkin akan lebih mudah jika meminta bantuan orang lain untuk meneteskan obat ke telinga.
  2. Jangan berbagi tetes teling adengan orang lain.
  3. Buanglah tetes telinga setelah waktu yang direkomendasikan. Kecuali ada keterangan lain biasanya 4 minggu setelah pertama kali botol dibuka. Sebaiknya catatlah tanggal waktu pertama kali membuka botol sehingga dapat dengan mudah mengingat kapan tidak bisa digunakan lagi.

 

TETES HIDUNG

  1. Hembuskan nafas dengan agak kuat untuk membersihkan hidung dari mucus dan kotoran sebelum menggunakan tetes hidung.
  2. Cuci tangan dengan sabun.
  3. Buka botol tetes hidung dan pastikan bahwa ujung penetesnya tidak pecah atau patah.
  4. Jangan menyantuh ujung penetes dengan hidung atau apapun. Jagalah tetap bersih.
  5. Tekuklah kepala sejauh mungkin kebelakang atau berbaring terlentang di tempat tidur dan letakkan kepala dipinggir tempat tidur dengan posisi menggantung.
  6. Teteskan obat sesuai jumlah yang diinginkan. Usahakan ujung penetes tidak menyentuh hidung atau apapun.
  7. Tekuklah kepala ke depan dan letakkan diantara lutut. Tetaplah pada posisi ini sampai beberapa menit.
  8. Cuci ujung penetes dengan air hangat. Tutuplah botol dengan rapat.

 

 

 

 

 

 

 

 

Perhatian:

  1. Simpan obat tetets hidung ditempat yang sejuk dan gelap.
  2. Jangan berbagi obat tetes hidung dengan orang lain.
  3. Buanglah tetes hidung setelah waktu yang direkomendasikan.

 

 

SEMPROT HIDUNG

      Terdapat dua jenis bentuk obat semprot hidung yaitu obat semprot hidung dengan canister/ wadah bertekanan dan obat semprot hidung dengan botol berpompa.

Langkah-langkah untuk menggunakan obat semprot hidung berbentuk canister:

  1. Hembuskan napas dengan agak kuat untuk membersihkan hidung dari mucus dan kotoran sebelum menggunakan obat ini.
  2. Pastikan bahwa canister terpasang dengan benar pada tempatnya. Kocoklah canister beberapa kali sebelum menggunakannya.
  3. Posisikan kepala tegak lurus. Tarik napas perlahan-lahan.
  4. Peganglah obat semprot hidung seperti yang terlihat pada gambar. Tutuplah lubang hidung yang tidak menerima obat.
  5. Tekan canister kebawah seraya memulai untuk tarik napas secara perlahan-lahan.
  6. Ulangi langkah-langkan di atas untuk lubang hidung yang lain. Jika kamu menggunakan lebih dari satu semprotan untuk tiap lubang hidung maka ulangi lagi langkah 2-5.
  7. Beberapa saat setelah menggunakan obat ini berusahalah untuk tidak bersin atau menghembuskan napas dengan keras.

 

Langkah-langkah menggunakan obat semprot hidung dengan botol berpompa:

  1. Hembuskan napas dengan agak kuat uantuk membersihkan hidung dari mucus dan kotoran sebelum menggunakan obat ini.
  2. Buanglah tutup botol. Kocoklah botol beberapa kali. Pada pengguanan pertama setiap harinya sebelum digunakan perlu untuk menyemprotkannya beberapa kali ke udara sampai keluat kabut halus.
  3. Posisikan kepala agak miring kedepan. Tarik napas perlahan-lahan.
  4. Pegang botol dengan ibu jari di bagian bawah botol dan jari tengah serta jari telunjuk di bagian atas botol. Tututplah lubang hidung lain yang tidak menerima obat.
  5. Tekanlah pompa botol seraya mulailah tarik napas perlahan-lahan. Ulangi langkah ini uantuk lubang hidung yang lain. Jika kamu menggunakan lebih dari satu semprotan untuk tiap lubang hidung maka ulangi lagi langkah 2-5.

 

Perhatian:

  1. Sebelum menggunakan obat semprot hidung pastikan bahwa masing-masing lubang hidung tidak mampet (masih dapat menghirup udara) karen ajika  tidak maka obat tidak dapat masuk ke hidung bagian dalam.
  2. Lakukan langkah-langkah penyemprotan dengan benar seperti petunjuk diatas.
  3. Jika penyemprotan dilakukan dengan benar maka obat tidak akan menetes keluar dari lubang hidung atau turun ke kerongkongan.
  4. Jangan digunakan pada hidung yang luka atau mengalami pendarahan.
  5. Simpan obat terhindar dari sinar matahari langsung.

 

 

 

 

 

METERED DOSE INHALER (MDI)

      Metered Dose Inhaler (MDI) adalah alat yang membantu memberikan obat dalam jumlah yang spesifik kedalam paru-paru. Biasanya digunakan untuk pengobatan asma, penyakit paru obstruktif kronis dan penyakit pernapasan lain. Setiap inhaler terdiri dari tabung bertekanan yang berisi obat dan sebuah mouthpiece. Sekali ditekan inhaler akan mengeluarkan obat dalam bentuk kabut tipis yang akan dihirup masuk ke paru-paru.

 

Langkah-langkah untuk menggunakan MDI:

  1. Buka tutup inhaler dan kocok.
  2. Buanglah napas perlahan-lahan sedapat mungkin mengosongkan paru-paru.
  3. Pegang inhaler 2,5-5 cm didepan mulut.
  4. Mulai menarik napas melalui mulut perlahan-lahan dan bersamaan dengan itu tekan inhaler satu kali.
  5. Tetapah tarik napas perlahan-lahan melalui mulut sedalam mungkin selama kurang lebih 3-5 detik.
  6. Tahan napas selama 10 detik supaya obat dapat masuk ke paru-paru dengan sempurna.
  7. Ulangi langkah 2-6 jika diperlukan lebih dari 1 kali semprotan. Tunggulah selama 1 menit sebelum semprotan berikutnya.

 

NEBULIZER

      Nebulizer adalah alat yang dapat merubah cairan menjadi droplet halus yang dapat dihirup melalui mouthpiece atau masker. Bagian dari nebulizer:

  1. Kompresor
  2. Selang
  3. 3.      Nebulizer cup
  4. 4.      Mouthpiece

 

Langkah-langkah penggunaan:

  1. Letakkan kompresor pada tempat yang kokoh. Hubungkan dengan arus listrik.
  2. Cuci tangan dengan sabun dan keringkan dengan handuk.
  3. Jika obat tidak tersedia dalam satu ampul untuk sekali pemakaian, maka ukur obat yang akan digunakan dengan tepat menggunakan syringe.
  4. Bukalah tutup nebulizer cup.
  5. Masukkan obat yang akan digunakan ke dasar cup.
  6. Hubungan nebulizer cup dengan mouthpiece.
  7. Pasang selang sehingga terhubung dengan nebulizer cup dan kompresor.
  8. Hidupkan kompresor dengan menekan tombol  on. Setelah kompresor hidup maka akan terlihat kabut tipis dari sisi belakang mouthpiece.
  9. Duduklah tegak lurus.

10.  Jika menggunakan masker maka pasanglah dengan benar sehingga tidak ada udara keluar.

11.  Jika menggunakan mouthpiece, masukkan kedalam mulut dan katupkan bibir rapat-rapat sehingga tidak ada yang bisa keluar.

12.  Bernapaslah melalui mulut secara perlahan dan dalam. Usahakan untuk menahan napas selama 2-3 detik pada setiap tarikan napas. Lanjutkan sampai seluruh obat dalam cup habis (sekitar 7-10 menit). Kocoklah cup beberapa kali untuk memastikan bahwa obatnya telah benar-benar habis.

13.  Matikan kompresor.

14.  Cuci nebulizer setelah digunakan.

15.  Mencuci nebulizer:

ü  Setiap kali selesai menggunakan cucilah nebulizer cup dengan air hangat dan keringkan.

ü  Setelah penggunaan terakhir tiap hari cuci nebulizer cup, masker dan mouthpiece dengan air hangat yang bersabun dan keringkan.

ü  Tidak perlu membersihkan selang.

ü  Setiap tiga hari setelah alat-alat tersebut dicuci, cuci lagi dengan air cuka sebegai desinfektan. Campur ½ gelas cuka dengan 1½ gelas air. Rendam selama 30 menit dan bilaslah dengan  air mengalir. Keringkan.

 

Perawatan kompresor:

      Tutuplah kompresor dengan kain bersih ketika tidak digunakan. Jagalah kebersihannya, usaplah dengan kain bersih yang lembab jika diperlukan.

 

SUPPOSITORIA

  1. Cuci tangan dengan sabun.
  2. Jika suppositoria terasa lembek, dinginkan dengan cara disimpan di lemari pendingin atau aliri saja dengan air dingin berikut kemasannya untuk mengeraskannya.
  3. Buka bungkus suppositoria.
  4. Jika hanya perlu menggunakan setengahnya saja maka potonglah memanjang dengan pisau tajam.
  5. Bila perlu pakailah sarung tangan.
  6. Licinkan ujung suppositoria dengan mencelupkannya dalam air dingin atau basahi daerah recatl dengan air dingin.
  7. Berbaringlah miring. Kaki yang dibawah tarik kebelakang.
  8. Tarik pantat atas ke atas untuk membuka daerah rectal.
  9. Masukkan suppositoria dengan ujung yang membulat didepan dengan jari sampai melewati otot sphincter kira-kira 1-2,5 cm pada anak-anak dan 2,5 cm pada dewasa. Jika memasukkannya kurang dalam maka suppositoria bisa keluar lagi.

10.  Tarik kedua pantat kearah rectal dan peganglah selama beberapa detik.

11.  Tetaplah berbaring selama ± 15 menit.

12.  Usahakan agar tidak buang iar besar selama 1 jam setelah pemberian obat.

 

 

TABLET VAGINA DENGAN APLIKATOR

  1. Cucilah tangan.
  2. Buka pembungkus tablet.
  3. Letakkan tablet diuung aplikator yang terbuka.
  4. Berbaringlah terlentang, tekuk lutut sedikit dan mengangkanglah.
  5. Perlahan-lahan masukkan aplikator ke dalam vagina sejauh mungkin tabletnya dibagian depan. Jangan mendorongnya  dengan paksa.
  6. Tekan alat pendorong sehingga tablet terlepas.
  7. Keluarkan aplikator.
  8. Buang aplikator (untuk kemasan sekali pakai).
  9. Bersihkan dengan cermat kedua bagian aplikator dengan sabun dan air matang yang hangat-hangat kuku (jika bukan kemasan sekali pakai).

10.  Cucilah tangan.

 

TABLET VAGINA TANPA APLIKATOR

  1. Cuci tangan.
  2. Buka kemasan tablet.
  3. Celupkan tablet kedalam air hangat-hangat kuku, sekedar untuk membasahinya.
  4. Berbaringlah, tekuk lutut dan mengangkanglah.
  5. Perlahan-lahan masukkan tablet kedalam vagina sejauh mungkin, jangan dipaksa.
  6. Cucilah tangan.

 

KRIM, SALEP DAN GEL VAGINA

Kebanyakan obat-obat ini dilengkapi dengan aplikator.

  1. Cucilah tangan.
  2. Buka tutup kemasan dari wadah obat.
  3. Pasang aplikator pada wadah.
  4. Tekan wadah sampai sejumlah obat yang dianjurkan masuk kedalam aplikator.
  5. Lepaskan aplikator dari wadah obat (pegang pipanya).
  6. Bubuhkanlah sedikit krim dibagian luar aplikator.
  7. Berbaringlah terlentang, tekuk lutut dan mengangkanglah.
  8. Perlahan-lahan masukkan aplikator kedalam vagina sejauh mungkin, jangan dipaksa.
  9. Pegang pipa aplikator dan dengan tangan lain, tekan alat pendorong untuk memasukkan obat dalam vagina.

10.  Keluar aplikator dari vagina.

11.  Buang aplikator untuk kemasan sekali pakai, atau bersihkan dengan air matang jika bukan kemasan sekali pakai.

12.  Cucilah tangan.

 

TABLET SUBLINGUAL

Sediaan tablet sublingual dalam pemakaiannya tidak boleh dikunyah, digerus atau ditelan. Tablet ini bekerja lebih cepat jika terabsorpsi melalui lapisa-lapisan mukosa di dalam mulut. Langkah-langkah pemakaian:

  1. Minum atau berkumurlah dengan sedikit air untuk melembabkan jika mulut kering.
  2. Letakkan tablet dibawah lidah.
  3. Tutuplah mulut dan janganlah menelan sampai tablet terdisolusi seluruhnya.
  4. Jangan makan, minum atau merokok selama proses disolusi tablet.
  5. Jangnlah berkumur atau mencuci mulut selama beberapa menit setelah tanlet terdisolusi dengan sempurna.

 

TABLET BUKAL

Sediaan tablet bukal dalam pemakaiannya tidak boleh dikunyah, digerus atau ditelan. Langkah pemakaian:

  1. Minumlah atau berkumurlah dengan sedikit air untuk melembabkan jika mulut kering.
  2. Letakkan tablet diantara pipi dan gusi bagian bawah.
  3. Tutuplah mulut dan janganlah menelan sampai tablet terdisolusi sempurna.
  4. Jangan makan, minum atau merokok selama proses disolusi tablet.
  5. Janganlah berkumur atau mencuci mulut selama beberapa menit setelah tablet terdisolusi sempurna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DIARE

 

Diare adalah peningkatan volume, keenceran dan frekuensi (4 kali atau lebih dalam sehari) buang air besar. Dalam keadaan normal feses mengandung 60-90% air, sedangkan keadaan diare > 90% berupa air. Diare biasanya mulai dengan mendadak dan disertai perut mulas akibat kejang-kejang, serta adakalanya rasa mual. Maka azasnya tidak perlu diobati, kecuali pada keadaan-keadaan yang gawat, misalnya bila feses mengandung lendir, darah dan/atau diiringi muntah-muntah dan demam tinggi.

Penyebab Diare:

  1. 1.      Infeksi oleh bakteri, disini bakteri-bakteri memperbanyak diri dan membentuk toksin-toksin yang merusak dinding usus dan menimbulkan diare yang disertai demam dan/atau lender/darah dalam feses. Contoh diare jenis ini dan bakteri penyebabnya: disentri amuba (Entamoeba), Disentri basiler (Shigella), tifus/paratifus (Salmonella) dan kolera (Vibrio).
  2. 2.      Infeksi oeh virus, virus ini akan melekat pada sel-sel mukosa usus, yang menjadi rusak sehingga kapasitas resorpsi menurun. Diare yang terjadi bertahan terus sampai beberapa hari sesudah virus lenyap  engan sendirinya, biasanya dalam 3-6 hari.
  3. 3.      Alergi makanan, misanya kepekaan berebihan terhadap lemak atau suatu zat putih telur misalnyan dari gandum (gluten). Alergi untuk susu agak sering terjadi  yang disebabkan oleh tidak adanya suatu enzim dalam tubuh yang mampu menguraikan gula susu (laktosa).
  4. 4.      Akibat penyakit lain, beberapa jenis penyakit yang menyebabkan diare sebagai saah satu gejalanya antara lain penyakit cacing (gelang dan pita), kanker usus besar dan pancreas dan peradangan usus besar (colitis). Begitu pula penyinaran untuk menanggulangi suatu benjolan kanker (tumor) serta pengobatan dengan antibiotika dapat menimbulkan diare sebagai efek sampingnya.
  5. 5.      Akibat emosi, misalnya gelisah, gugup, perasaan takut yang hebat.

 

Pencegahan Diare

Pencegahan diare pada dasarnya harus ditujukan pada tindakan hygiene yang cermat mengenai kebersihan, khususnya:

  1. Cuci tangan sebelum makan dan mengoah makanan.
  2. Cuci dengan baik alat-alat dapur dan bahan-bahan makanan, misalnya sayuran.
  3. Daging/ikan hendaknya dimasak sampai matang dan hidangan perlu disimpan tertutup serta pada suhu rendah (dibawah 70C) untuk mencegah tumbuhnya kuman.
  4. Air minum di tempat yang meragukan penting sekali untuk dimasak terlebih dahulu.

 

Tindakan-tindakan umum apa yang dapat dilakukan?

  1. Pasien harus istirahat, sebaiknya berbaring guna memungkinkan luka-luka di dinding usus sembuh.
  2. Pantangan makan, antara lain gorengan atau makanan berlemak, zat-zat merangsang (merica, sambal). Konsumsi makanan yang mudah dicerna, seperti bubur encer, roti, biscuit. Juice apel dapat diberikan pula karena banyak mengandung pektin.
  3. Minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi.

 

Dehidrasi

Pada diare hebat yang sering kali disertai muntah-muntah, tubuh kehilangan banyak air dengan garam-garamnya, terutama natrium dan kalium, sehingga tubuh kekeringan (dehidrasi), kekurangan kalium (hipokalemia) dan adakalanya acidosis (darah menjadi asam), yang dapat mengakibatkan shock dan kematian. Gejalanya berupa perasaan haus, mulut dan bibir kering, kulit keriput, berkurngnya air seni, berat badan dan tekanan darah menurun, gelisah.

Pencegahan dehidrasi. Untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi WHO teah menyusun dan menganjurkan ORS (Oral Rehydration Salt). ORS adalah suatu larutan dari campuran NaCl 3,5 g, KCl 1,5 g, Na-trisitrat 2,5 g dan glukosa 20 g dalam 1 iter air matang (Oralyte, Ottolit). Glukosa disini menstimuasi secara aktif transpor Na dan air melalui dinding usus sehingga resorbsi air dalam usus halus meningkat 25 kali.  

ORS beras. Tepung beras terutama berisi pati yang dapat menghasilkan glukosa 2 kali lebih banyak daripada dalam ORS biasa. Efeknya adalah bartambahnya penyerapan kembai air dan elektrolit. ORS beras juga mengurangi kuantitas tinja dan lamanya fase diare dengan rata-rata 20 %. Pembuatan sendiri: Tepung beras 50 gram dimasak dengan ± 1 liter air selama 7-10 menit, disaring, larutkan garam dapur 3,5 gram (± 1 peres sendok teh) dan tambahkan air matang sampai volume 1 liter tepat.

Larutan gula-garam. Gula putih 1 sendok makan (± 20 gram) dan garam dapur 1 sendok teh (± 3,5 gram) dalam 1 liter air matang.

 

Penggolongan obat diare:

  1. Kemoterapeutika, memberantas bakteri penyebab diare seperti antibiotic, sulfonamide, kinolon dan furazolidon.
  2. Obstipansia, dapat menghentikan diare dengan beberapa cara:
    1. Zat-zat penekan peristaltic
    2. Adstringensia , menciutkan selaput lender usus. Misalnya asam samak (tannin) garam-garam bismuth dan aluminium.
    3. Adsorbensia, misalnya Carbo Adsorbens yang pada permukaannya dapat menyerap zat-zat beracun yang dihasilkan bakteri atau adakalanya yang berasal dari makanan.
  3. Spasmolitika yaitu zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang seringkai menyebabkan nyeri perut pada diare.

 

Pengobatan diare:

  1. ORS, penting diberikan pada penderita diare untuk menggantikan cairan yang hiang akibat diare hebat khususnya pada anak-anak dan orang tua.

Dosis: 1 sachet ORS dilarutkan dalam 1 liter air matang.

Bayi dan anak-anak dengan dehidrasi: 10 m/kg BB setiap jam sampai gejala-gejalanya lenyap (6-8 jam). Untuk pemeliharaan: 10 ml/kg BB setiap kali setelah buang air besar.

Dewasa: 1,5-2 liter diminum sepanjang hari.

  1. Arang aktif = Carbo adsorbens (Norit) adalah arang halus yang telah diaktifkan secara khusus. Dalam usus berdaya mengikat pada permukaan zat-zat dengan struktur tertentu , misalnya toksin-toksin berasal dari bakteri.Banyak obat dapat terikat padanya, antara lain obat-obat anti nyeri parasetamol dan asetosal, serta obat batuk prometazin, pil anti hamil dan antibiotika. Maka sebaiknya obat-obat ini jangan diminum bersamaan dengan arang aktif, melainkan beberapa jam sesudahnya. Arang aktif ini aman untuk ibu hamil dan menyusui.

Dosis: Diare: 2 – 3x sehari 3 – 4 tablet 250 mg

Keracunan: 10 tablet sekaligus dan diulang beberapa kali setiap 15 menit. Tinja berwarna hitam.

  1. Kaolin (Kaopectate), adalah sejenis tanah lempung yang mengandung aluminiumsilikat. Kaolin tidak larut dalam air dan dalam usus berdaya mengikat zat-zat racun serta memperbesar isi usus. Di anggap aman untuk wanita hamil dan yang menyusui.
  2. Attalpugit (Biodiar), adalh senyawa kompeks dari aluminium-magnesiumsilikat dengan sifat-sifat yang sama. Biasanya diaktifasi dengan jalan pemanasan untuk meningkatkan daya adsorbsinya yang jauh lebih kuat dari kaolin.

Dosis: 3-6x sehari 1,5 gram.

  1. Pektin (kaopectate, komb), adalah zat karbohidrat (polisakarida), yang terdapat pada dinding sel dari semua tumbuhan dan berfungsi sebagai bahan pelekat antar sel. Diperoleh dari buah apel dan bagian dalam (putih) dari kulit jeruk. Dalam sediaan-sediaan obat diare berguna sebagai zat pengikat toksin-toksin dan zat pembesar volume isi usus yang sering dikombinasi dengan kaolin.

Dosis: 3-5x sehari 100-150 mg.

  1. Loperamida (Imodium, Inamed, Lomodium), merupakan turunn dari narkotika yang memiliki khasiat antidiare sangat kuat tanpa bahaya ketagihan. Bekerja terhadap dinding usus dengan memulihkan keseimbangan yang terganggu antara resorpsi dan sekresi air. Mulai kerjanya cepat dan bertahan agak lama.

Dosis: Dewasa: selalu dimulai dengan 2 tablet sekaligus disusul dengan 1 tablet setiap 2 jam sampai diare berhenti. Maksimum 8 tablet per hari.

Anak-anak > 8 th: dapat diberikan maksimal 5x sehari 1 tablet.

Anak-anak < 8 th diberikan sirup (Loremid, Mecodiar,Normudal) dengan takaran berdasarkan berat badannya sbb:

 

3 kg: 4x sehari ¼ takaran                    10 kg: 6x sehari 1 takaran

5 kg: 4x sehari ¼ - ½ takaran              15 kg: 5x sehari 1,5 takaran

10 kg: 4x sehari ½-1 takaran               (1 takaran = 5 ml)

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KONSTIPASI / SEMBELIT

 

Konstipasi atau sembelit adalah keadaan dimana defekasi terhenti atau berlangsung tidak lancar dan tidak teratur. Gejalanya berupa perasaan penuh di bagian lambung, mual, tinja keras serta defekasi sulit dan nafsu makan berkurang.

 

Kapankah terdapat sembelit?

Bila terjadi perubahan pola buang air, khususnya mengenai frekuensinya atau jika banyaknya tinja lebih sedikit atau lebih keras dari biasanya. Apalagi bila disertai dengan perasaan penuh dalam perut dan nyeri perut yang tidak dapat diatasi dengan tindakan-tindakan sederhana, misalya memperbaiki susunan diet sehari-hari.

 

Proses Pencernaan

Makanan yang sudah dikunyah halus dan sudah teraduk rata dengan ludah dalam lambung diremas lagi bersama getah lambung (asam klorida + enzim-enzim) menjadi bubur cair. Gerakan peritaltik lambung akan meneruskan makanan tadi ke usus halus, disini berlangsung penguraian oleh enzim-enzim. Zat-zat yang berguna diuraikan mnjadi bagian yang lebih kecil yang diserap dan masuk dalam aliran darah. Sisa zat-zat yang tidak diserap dan air (untuk 90%) perlahan-lahan digerakkan oleh peristaltikotot usus ke dubur.

Selama perjalanan melalui usus besar sebagian besar air diserap oleh dinding usus dan dubur menjadi lebih padat, sedangkan bakteri usus menyelesaikan proses pencernaan. Akhirnya isi usus yang terdiri dari sera


Komentar :

No Komen : 2
inuy :: 26-02-2013 13:45:34
referansinya koq tidak ditampilkan, biar jelas sumbernya darimana..
 
No Komen : 1
:: 26-02-2013 13:42:27
 
Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]